kami, ukhwah dan perjuangan

silaturrahim kami ukhwah fillah
bermusuh kami nau'zubillah
berpisah mati insyaAllah
pengubat hati doa Rabithah

Wednesday, 29 June 2011

KISAH CINTA RASULULLAH & SITI KHADIJAH

Siapakah khadijah?

Dia adalah Khadijah r.a, seorang wanita janda, bangsawan, hartawan, cantik dan budiman. Ia disegani oleh masyarakat Quraisy khususnya, dan bangsa Arab pada umumnya. Sebagai seorang pengusaha, ia banyak memberikan bantuan dan modal kepada pedagang-pedagang atau melantik orang-orang untuk mewakili urusan-urusan perniagaannya ke luar negeri.

Banyak pemuda Quraisy yang ingin menikahinya dan sanggup membayar mas kawin berapa pun yang dikehendakinya, namun selalu ditolaknya dengan halus kerana tak ada yang berkenan di hatinya.

Bermimpi melihat matahari turun kerumahnya

Pada suatu malam ia bermimpi melihat matahari turun dari langit, masuk ke dalam rumahnya serta memancarkan sinarnya merata kesemua tempat sehingga tiada sebuah rumah di kota Makkah yang luput dari sinarnya.

Mimpi itu diceritakan kepada sepupunya yang bernama Waraqah bin Naufal. Dia seorang lelaki yang berumur lanjut, ahli dalam mentakbirkan mimpi dan ahli tentang sejarah bangsa-bangsa purba. Waraqah juga mempunyai pengetahuan luas dalam agama yang dibawa oleh Nabi-Nabi terdahulu.

Waraqah berkata: “Takwil dari mimpimu itu ialah bahwa engkau akan menikah kelak dengan seorang Nabi akhir zaman.” “Nabi itu berasal dari negeri mana?” tanya Khadijah bersungguh-sungguh. “Dari kota Makkah ini!” ujar Waraqah singkat. “Dari suku mana?” “Dari suku Quraisy juga.” Khadijah bertanya lebih jauh: “Dari keluarga mana?” “Dari keluarga Bani Hasyim, keluarga terhormat,” kata Waraqah dengan nada menghibur. Khadijah terdiam sejenak, kemudian tanpa sabar meneruskan pertanyaan terakhir: “Siapakah nama bakal orang agung itu, hai sepupuku?” Orang tua itu mempertegas: “Namanya Muhammad SAW. Dialah bakal suamimu!”

Khadijah pulang ke rumahnya dengan perasaan yang luar biasa gembiranya.Belum pernah ia merasakan kegembiraan sedemikian hebat. Maka sejak itulah Khadijah senantiasa bersikap menunggu dari manakah gerangan kelak munculnya sang pemimpin itu.

Lamaran dari khadijah kepada Rasulullah s.a.w

Muhammad Al-Amiin muncul di rumah Khadijah. Wanita usahawan itu berkata

Khadijah: “Hai Al-Amiin, katakanlah apa keperluanmu!” (Suaranya ramah, bernada dermawan. Dengan sikap merendahkan diri tapi tahu harga dirinya)

Muhammad SAW berbicara lurus, terus terang, meskipun agak malu-malu tetapi pasti.

Muhammad SAW: “Kami sekeluarga memerlukan nafkah dari bagianku dalam rombongan niaga. Keluarga kami amat memerlukannya untuk mencarikan jodoh bagi anak saudaranya yang yatim piatu”

(Kepalanya tertunduk, dan wanita hartawan itu memandangnya dengan penuh ketakjuban)

Khadijah: “Oh, itukah….! Muhammad, upah itu sedikit, tidak menghasilkan apa-apa bagimu untuk menutupi keperluan yang engkau maksudkan,”. “Tetapi biarlah, nanti saya sendiri yang mencarikan calon isteri bagimu”.(Ia berhenti sejenak, meneliti).

Kemudian meneruskan dengan tekanan suara memikat dan mengandung isyarat

Khadijah: “Aku hendak mengawinkanmu dengan seorang wanita bangsawan Arab. Orangnya baik, kaya, diinginkan oleh banyak raja-raja dan pembesar-pembesar Arab dan asing, tetapi ditolaknya. Kepadanyalah aku hendak membawamu”.

khadijah (Khadijah tertunduk lalu melanjutkan): “Tetapi sayang, ada aibnya…! Dia dahulu sudah pernah bersuami. Kalau engkau mau, maka dia akan menjadi pengkhidmat dan pengabdi kepadamu”.

Pemuda Al-Amiin tidak menjawab. Mereka sama-sama terdiam, sama-sama terpaku dalam pemikirannya masing-masing. Yang satu memerlukan jawapan, yang lainnya tak tahu apa yang mau dijawab. Khadijah r.a tak dapat mengetahui apa yang terpendam di hati pemuda Bani Hasyim itu, pemuda yang terkenal dengan gelaran Al-Amiin (jujur). Pemuda Al-Amiin itupun mungkin belum mengetahui siapa kira-kira calon yang dimaksud oleh Khadijah r.a.

Rasulullah SAW minta izin untuk pulang tanpa sesuatu keputusan yang ditinggalkan. Ia menceritakan kepada Pamannya.

Rasulullah SAW: “Aku merasa amat tersinggung oleh kata-kata Khadijah r.a. Seolah-olah dia memandang enteng dengan ucapannya ini dan itu “anu dan anu….” Ia mengulangi apa yang dikatakan oleh perempuan kaya itu.

‘Atiqah juga marah mendengar berita itu. Dia seorang perempuan yang cepat naik darah kalau pihak yang dinilainya menyinggung kehormatan Bani Hasyim. Katanya: “Muhammad, kalau benar demikian, aku akan mendatanginya”.

‘Atiqah tiba di rumah Khadijah r.a dan terus menegurnya: “Khadijah, kalau kamu mempunyai harta kekayaan dan kebangsawan, maka kamipun memiliki kemuliaan dan kebangsawanan. Kenapa kamu menghina puteraku, anak saudaraku Muhammad?”

Khadijah r.a terkejut mendengarnya. Tak disangkanya bahwa kata-katanya itu akan dianggap penghinaan. Ia berdiri menyabarkan dan mendamaikan hati ‘Atiqah:

Khadijah : “Siapakah yang sanggup menghina keturunanmu dan sukumu? Terus terang saja kukatakan kepadamu bahwa dirikulah yang kumaksudkan kepada Muhammad SAW. Kalau ia mau, aku bersedia menikah dengannya; kalau tidak,aku pun berjanji tak akan bersuami hingga mati”.

Pernyataan jujur ikhlas dari Khadijah r.a membuat ‘Atiqah terdiam. Kedua wanita bangsawan itu sama-sama cerah. Percakapan menjadi serius. “Tapi Khadijah, apakah suara hatimu sudah diketahui oleh sepupumu Waraqah bin Naufal?” tanya ‘Atiqah sambil meneruskan: “Kalau belum cobalah meminta persetujuannya.” “Ia belum tahu, tapi katakanlah kepada saudaramu, Abu Thalib, supaya mengadakan perjamuan sederhana. Jamuan minum, dimana sepupuku diundang, dan disitulah diadakan majlis lamaran”, Khadijah r.a berkata seolah-olah hendak mengatur siasat. Ia yakin Waraqah takkan keberatan karena dialah yang menafsirkan mimpinya akan bersuamikan seorang Nabi akhir zaman.

‘Atiqah pulang dengan perasaan tenang, puas. Pucuk dicinta ulam tiba. Ia segera menyampaikan berita gembira itu kepada saudara-saudaranya: Abu Thalib, Abu Lahab, Abbas dan Hamzah. Semua riang menyambut hasil pertemuan ‘Atiqah dengan Khadijah “Itu bagus sekali”, kata Abu Thalib, “tapi kita harus bermusyawarah dengan Muhammad SAW lebih dulu.”

Khadijah yang cantik

Sebelum diajak bermusyawarah, maka terlebih dahulu ia pun telah menerima seorang perempuan bernama Nafisah, utusan Khadijah r.a yang datang untuk menjalin hubungan kekeluargaan. Utusan peribadi Khadijah itu bertanya:

Nafisah : “Muhammad, kenapa engkau masih belum berfikir mencari isteri?”

Muhammad SAW menjawab: “Hasrat ada, tetapi kesanggupan belum ada.”

Nafisah “Bagaimana kalau seandainya ada yang hendak menyediakan nafkah? Lalu engkau mendapat seorang isteri yang baik, cantik, berharta, berbangsa dan sekufu pula denganmu, apakah engkau akan menolaknya?”

Rasulullah SAW: “Siapakah dia?” tanya Muhammad SAW.

Nafisah : “Khadijah!” Nafisah berterus terang. “Asalkan engkau bersedia, sempurnalah segalanya. Urusannya serahkan kepadaku!”

Usaha Nafisah berhasil. Ia meninggalkan putera utama Bani Hasyim dan langsung menemui Khadijah r.a, menceritakan kesediaan Muhammad SAW. Setelah Muhammad SAW menerima pemberitahuan dari saudara-saudaranya tentang hasil pertemuan dengan Khadijah r.a, maka baginda tidak keberatan mendapatkan seorang janda yang usianya lima belas tahun lebih tua daripadanya.

Betapa tidak setuju, apakah yang kurang pada Khadijah? Ia wanita bangsawan, cantik, hartawan, budiman. Dan yang utama karena hatinya telah dibukakan Tuhan untuk mencintainya, telah ditakdirkan akan dijodohkan dengannya. Kalau dikatakan janda, biarlah! Ia memang janda umur empat puluh, tapi janda yang masih segar, bertubuh ramping, berkulit putih dan bermata jeli. Maka diadakanlah majlis yang penuh keindahan itu.

Hadir Waraqah bin Naufal dan beberapa orang-orang terkemuka Arab yang sengaja dijemput. Abu Thalib dengan resmi meminang Khadijah r.a kepada saudara sepupunya. Orang tua bijaksana itu setuju. Tetapi dia meminta tempoh untuk berunding dengan wanita yang berkenaan.

Pernikahan Muhammad dengan Khadijah

Khadijah r.a diminta pendapat. Dengan jujur ia berkata kepada Waraqah: “Hai anak sepupuku, betapa aku akan menolak Muhammad SAW padahal ia sangat amanah, memiliki keperibadian yang luhur, kemuliaan dan keturunan bangsawan, lagi pula pertalian kekeluargaannya luas”. “Benar katamu, Khadijah, hanya saja ia tak berharta”, ujar Waraqah. “Kalau ia tak berharta, maka aku cukup berharta. Aku tak memerlukan harta lelaki. Kuwakilkan kepadamu untuk menikahkan aku dengannya,” demikian Khadijah r.a menyerahkan urusannya.

Waraqah bin Naufal kembali mendatangi Abu Thalib memberitakan bahwa dari pihak keluarga perempuan sudah bulat mufakat dan merestui bakal pernikahan kedua mempelai. Lamaran diterima dengan persetujuan mas kawin lima ratus dirham. Abu Bakar r.a, yang kelak mendapat sebutan “Ash-Shiddiq”, sahabat akrab Muhammad SAW. sejak dari masa kecil, memberikan sumbangan pakaian indah buatan Mesir, yang melambangkan kebangsawaan Quraisy, sebagaimana layaknya dipakai dalam upacara adat istiadat pernikahan agung, apalagi karena yang akan dinikahi adalah seorang hartawan dan bangsawan pula.

Peristiwa pernikahan Muhammad SAW dengan Khadijah r.a berlangsung pada hari Jum’at, dua bulan sesudah kembali dari perjalanan niaga ke negeri Syam. Bertindak sebagai wali Khadijah r.a ialah pamannya bernama ‘Amir bin Asad.

Waraqah bin Naufal membacakan khutbah pernikahan dengan fasih, disambut oleh Abu Thalib sebagai berikut: “Alhamdu Lillaah, segala puji bagi Allah Yang menciptakan kita keturunan (Nabi) Ibrahim, benih (Nabi) Ismail, anak cucu Ma’ad, dari keturunan Mudhar. “Begitupun kita memuji Allah SWT Yang menjadikan kita penjaga rumah-Nya, pengawal Tanah Haram-Nya yang aman sejahtera, dan menjadikan kita hakim terhadap sesama manusia.

“Sesungguhnya anak saudaraku ini, Muhammad bin Abdullah, kalau akan ditimbang dengan laki-laki manapun juga, niscaya ia lebih berat dari mereka sekalian. Walaupun ia tidak berharta, namun harta benda itu adalah bayang-bayang yang akan hilang dan sesuatu yang akan cepat perginya. Akan tetapi Muhammad SAW, tuan-tuan sudah mengenalinya siapa dia. Dia telah melamar Khadijah binti Khuwailid. Dia akan memberikan mas kawin lima ratus dirham yang akan segera dibayarnya dengan tunai dari hartaku sendiri dan saudara-saudaraku.

“Demi Allah SWT, sesungguhnya aku mempunyai firasat tentang dirinya bahwa sesudah ini, yakni di saat-saat mendatang, ia akan memperolehi berita gembira (albasyaarah) serta pengalaman-pengalaman hebat. “Semoga Allah memberkati pernikahan ini”. Penyambutan untuk memeriahkan majlis pernikahan itu sangat meriah di rumah mempelai perempuan. Puluhan anak-anak lelaki dan perempuan berdiri berbaris di pintu sebelah kanan di sepanjang lorong yang dilalui oleh mempelai lelaki, mengucapkan salam marhaban kepada mempelai dan menghamburkan harum-haruman kepada para tamu dan pengiring.

Selesai upacara dan tamu-tamu bubar, Khadijah r.a membuka isi hati kepada suaminya dengan ucapan: “Hai Al-Amiin, bergembiralah! Semua harta kekayaan ini baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, yang terdiri dari bangunan-bangunan, rumah-rumah, barang-barang dagangan, hamba-hamba sahaya adalah menjadi milikmu. Engkau bebas membelanjakannya ke jalan mana yang engkau redhai !”

Itulah sebagaimana Firman Allah SWT yang bermaksud: “Dan Dia (Allah) mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kekayaan”. (Adh-Dhuhaa:

Alangkah bahagianya kedua pasangan mulia itu, hidup sebagai suami isteri yang sekufu, sehaluan, serasi dan secita-cita.

Dijamin Masuk Syurga

Khadijah r.a mendampingi Muhammad SAW. selama dua puluh enam tahun, yakni enam belas tahun sebelum dilantik menjadi Nabi, dan sepuluh tahun sesudah masa kenabian. Ia isteri tunggal, tak ada duanya, bercerai karena kematian.

Tahun wafatnya disebut “Tahun Kesedihan” (‘Aamul Huzni).

Khadijah r.a adalah orang pertama sekali beriman kepada Rasulullah SAW. ketika wahyu pertama turun dari langit. Tidak ada yang mendahuluinya. Ketika Rasulullah SAW menceritakan pengalamannya pada peristiwa turunnya wahyu pertama yang disampaikan Jibril ‘alaihissalam, dimana beliau merasa ketakutan dan menggigil menyaksikan bentuk Jibril a.s dalam rupa aslinya, maka Khadijahlah yang pertama dapat mengerti makna peristiwa itu dan menghiburnya, sambil berkata:

“Bergembiralah dan tenteramkanlah hatimu. Demi Allah SWT yang menguasai diri Khadijah r.a, engkau ini benar-benar akan menjadi Nabi Pesuruh Allah bagi umat kita. “Allah SWT tidak akan mengecewakanmu. Bukankah engkau orang yang senantiasa berusaha untuk menghubungkan tali persaudaraan? Bukankah engkau selalu berkata benar? Bukankah engkau senantiasa menyantuni anak yatim piatu, menghormati tamu dan mengulurkan bantuan kepada setiap orang yang ditimpa kemalangan dan musibah?”

Khadijah r.a membela suaminya dengan harta dan dirinya di dalam menegakkan kalimah tauhid, serta selalu menghiburnya dalam duka derita yang dialaminya dari gangguan kaumnya yang masih ingkar terhadap kebenaran agama Islam, menangkis segala serangan caci maki yang dilancarkan oleh bangsawan-bangsawan dan hartawan Quraisy.

Layaklah kalau Khadijah r.a mendapat keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh wanita-wanita lain yaitu, menerima ucapan salam dari Allah SWT. yang disampaikan oleh malaikat Jibril a.s kepada Rasulullah SAW. disertai salam dari Jibril a.s peribadi untuk disampaikan kepada Khadijah radiallahu ‘anha serta dihiburnya dengan syurga.

Kesetiaan Khadijah r.a diimbangi oleh kecintaan Nabi SAW kepadanya tanpa terbatas. Nabi SAW pernah berkata: “Wanita yang utama dan yang pertama akan masuk Syurga ialah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad SAW., Maryam binti ‘Imran dan Asyiah binti Muzaahim, isteri Fir’aun”.

Wanita Terbaik

Sanjungan lain yang banyak kali diucapkan Rasulullah SAW. terhadap peribadi Khadijah r.a ialah: “Dia adalah seorang wanita yang terbaik, karena dia telah percaya dan beriman kepadaku di saat orang lain masih dalam kebimbanga, dia telah membenarkan aku di saat orang lain mendustakanku; dia telah mengorbankan semua harta bendanya ketika orang lain mencegah kemurahannya terhadapku; dan dia telah melahirkan bagiku beberapa putera-puteri yang tidak ku dapatkan dari isteri-isteri yang lain”.

Putera-puteri Rasulullah SAW. dari Khadijah r.a sebanyak tujuh orang: tiga lelaki (kesemuanya meninggal di waktu kecil) dan empat wanita. Salah satu dari puterinya bernama Fatimah, dinikahkan dengan Ali bin Abu Thalib, sama-sama sesuku Bani Hasyim. Keturunan dari kedua pasangan inilah yang dianggap sebagai keturunan langsung dari Rasulullah SAW.

Perjuangan Khadijah

Tatkala Nabi SAW mengalami rintangan dan gangguan dari kaum lelaki Quraisy, maka di sampingnya berdiri dua orang wanita. Kedua wanita itu berdiri di belakang da’wah Islamiah, mendukung dan bekerja keras mengabdi kepada pemimpinnya, Muhammad SAW : Khadijah bin Khuwailid dan Fatimah binti Asad. Oleh karena itu Khadijah berhak menjadi wanita terbaik di dunia. Bagaimana tidak menjadi seperti itu, dia adalah Ummul Mu’minin, sebaik-baik isteri dan teladan yang baik bagi mereka yang mengikuti teladannya.

Khadijah menyiapkan sebuah rumah yang nyaman bagi Nabi SAW sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika merenung di Gua Hira’. Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi SAW berdoa (memohon) kepada Tuhannya. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang menolongnya dengan jiwa, harta dan keluarga. Peri hidupnya harum, kehidupannya penuh dengan kebajikan dan jiwanya sarat dengan kebaikan.

Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa.”

Kenapa kita bersusah payah mencari teladan di sana-sini, padahal di hadapan kita ada “wanita terbaik di dunia,” Khadijah binti Khuwailid, Ummul Mu’minin yang setia dan taat, yang bergaul secara baik dengan suami dan membantunya di waktu berkhalwat sebelum diangkat menjadi Nabi dan meneguhkan serta membenarkannya.

Khadijah mendahului semua orang dalam beriman kepada risalahnya, dan membantu beliau serta kaum Muslimin dengan jiwa, harta dan keluarga. Maka Allah SWT membalas jasanya terhadap agama dan Nabi-Nya dengan sebaik-baik balasan dan memberinya kesenangan dan kenikmatan di dalam istananya, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW, kepadanya pada masa hidupnya.

Ketika Jibril A.S. datang kepada Nabi SAW, dia berkata :”Wahai, Rasulullah, inilah Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah dan makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan salam kepadanya dari Tuhannya dan aku, dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga dari mutiara yang tiada keributan di dalamnya dan tidak ada kepayahan.” [HR. Bukhari dalam "Fadhaail Ashhaabin Nabi SAW. Imam Adz-Dzahabi berkata:"Keshahihannya telah disepakati."]

Bukankah istana ini lebih baik daripada istana-istana di dunia, hai, orang-orang yang terpedaya oleh dunia ? Sayidah Khadijah r.a. adalah wanita pertama yang bergabung dengan rombongan orang Mu’min yang orang pertama yang beriman kepada Allah di bumi sesudah Nabi SAW. Khadijah r.a. membawa panji bersama Rasulullah SAW sejak saat pertama, berjihad dan bekerja keras. Dia habiskan kekayaannya dan memusuhi kaumnya. Dia berdiri di belakang suami dan Nabinya hingga nafas terakhir, dan patut menjadi teladan tertinggi bagi para wanita.

Betapa tidak, karena Khadijah r.a. adalah pendukung Nabi SAW sejak awal kenabian. Ar-Ruuhul Amiin telah turun kepadanya pertama kali di sebuah gua di dalam gunung, lalu menyuruhnya membaca ayat-ayat Kitab yang mulia, sesuai yang dikehendaki Allah SWT. Kemudian dia menampakkan diri di jalannya, antara langit dan bumi. Dia tidak menoleh ke kanan maupun ke kiri sehingga Nabi SAW melihatnya, lalu dia berhenti, tidak maju dan tidak mundur. Semua itu terjadi ketika Nabi SAW berada di antara jalan-jalan gunung dalam keadaan kesepian, tiada penghibur, teman, pembantu maupun penolong.

Nabi SAW tetap dalam sikap yang demikian itu hingga malaikat meninggalkannya. Kemudian, beliau pergi kepada Khadijah dalam keadaan takut akibat yang didengar dan dilihatnya. Ketika melihatnya, Khadijah berkata :”Dari mana engkau, wahai, Abal Qasim ? Demi Allah, aku telah mengirim beberapa utusan untuk mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah, kemudian kembali kepadaku.” Maka Rasulullah SAW menceritakan kisahnya kepada Khadijah r.a.

Khadijah r.a. berkata :”Gembiralah dan teguhlah, wahai, putera pamanku. Demi Allah yang menguasai nyawaku, sungguh aku berharap engkau menjadi Nabi umat ini.” Nabi SAW tidak mendapatkan darinya, kecuali pe neguhan bagi hatinya, penggembiraan bagi dirinya dan dukungan bagi urusannya. Nabi SAW tidak pernah mendapatkan darinya sesuatu yang menyedihkan, baik berupa penolakan, pendustaan, ejekan terhadapnya atau penghindaran darinya. Akan tetapi Khadijah melapangkan dadanya, melenyapkan kesedihan, mendinginkan hati dan meringankan urusannya.

Demikian hendaknya wanita ideal.

Itulah dia, Khadijah r.a., yang Allah SWT telah mengirim salam kepadanya. Maka turunlah Jibril A.S. menyampaikan salam itu kepada Rasul SAW seraya berkata kepadanya :”Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda :”Wahai Khadijah, ini Jibril menyampaikan salam kepadamu dari Tuhanmu.” Maka Khadijah r.a. menjawab :”Allah yang menurunkan salam (kesejahteraan), dari-Nya berasal salam (kesejahteraan), dan kepada Jibril semoga diberikan salam (kesejahteraan).”

Sesungguhnya ia adalah kedudukan yang tidak diperoleh seorang pun di antara para shahabat yang terdahulu dan pertama masuk Islam serta khulafaur rasyidin. Hal itu disebabkan sikap Khadijah r.a. pada saat pertama lebih agung dan lebih besar daripada semua sikap yang mendukung da’wah itu sesudahnya. Sesungguhnya Khadijah r.a. merupakan nikmat Allah yang besar bagi Rasulullah SAW. Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu yang sulit, membantunya dalam menyampaikan risalahnya, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad dan menolong- nya dengan jiwa dan hartanya.

Rasulullah SAW bersabda :”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkari. Dia membenarkan aku ketika orang-orang mendustakan. Dan dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selain dia.” [HR. Imam Ahmad dalam "Musnad"-nya, 6/118]

Diriwayatkan dalam hadits shahih, dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Jibril datang kepada Nabi SAW, lalu berkata :”Wahai, Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan atau minuman. Apabila dia datang kepadamu, sampaikan kepadanya salam dari Tuhan-nya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di syurga, (terbuat) dari mutiara yang tiada suara ribut di dalamnya dan tiada kepayahan.” [Shahih Bukhari, Bab Perkawinan Nabi SAW dengan Khadijah dan Keutamaannya]

Wallahu a'lam,,,

Tuesday, 28 June 2011

ayah!!! tarik kakiku ayah!!!



Hairan saya melihat beberapa orang kampung berkumpul di kedai pada tengah hari itu.

I September 1994.

Serius mereka berbual hingga dahi berkerut-kerut.
Lepas seorang bercerita yang lain menggeleng - gelengkan kepala.
Pasti ada sesuatu yang ‘besar’ sedang mereka bincangkan,
kata saya di dalam hati.
Setelah injin motosikal di matikan, saya berjalan ke arah mereka.

” Bincang apa tu ?
Serius aku tengok,” saya menyapa.

” Haaa… Din, kau tak pergi tengok budak perempuan tak boleh keluar dari kubur emak dia ?”
kata Jaimi, kawan saya.

” Budak perempuan ?
Tak boleh keluar dari kubur ?
Aku tak fahamlah,” jawab saya.

Memang saya tak faham kerana lain benar apa yang mereka katakan itu.

” Macam ni,” kata Jaimi, lalu menyambung, ”
di kubur kat kampung Batu 10 tu,
ada seorang budak perempuan tolong kebumikan emak dia,
tapi lepas itu dia pula yang tak boleh keluar dari kubur tu.
Sekarang ni orang tengah nak keluarkan dia… tapi belum boleh lagi “.

” Kenapa jadi macam tu ? ”
saya bertanya supaya Jaimi bercerita lebih mendalam.
Patutlah serius sangat mereka berbual..
Jaimi memulakan ceritanya...
Kata beliau, memandangkan semalam adalah hari kelepasan semperna Hari Kebangsaan,
budak perempuan berumur belasan tahun itu meminta wang daripada ibunya untuk keluar bersama kawan-kawan ke Bandar Sandakan.
Bagaimana pun,
ibunya yang sudah berusia dan sakit pula enggan memberikannya wang.

” Bukannya banyak, RM 20 aja mak !” gadis itu membentak.

” Mana emak ada duit. Mintak dengan bapa kamu,” jawab ibunya, perlahan.

Sambil itu dia mengurut kakinya yang sengal.
Sudah bertahun-tahun dia mengidap darah tinggi,
lemah jantung dan kencing manis.

” Maaak… kawan-kawan semuanya keluar.
Saya pun nak jalan jugak,” kata gadis itu.

” Yalah, mak tau… tapi mak tak ada duit,” balas ibunya.

” RM 20 aja !” si gadis berkata.

” Tak ada ,” jawab ibunya.

” Emak memang kedekut !” si gadis mula mengeluarkan kata-kata keras.

” Bukan macam tu ta…” belum pun habis ibunya menerangkan,
gadis tersebut menyanggah, katanya,

” Ahhh… sudahlah emak ! Saya tak mau dengar ! ”

” Kalau emak ada du… ” ibunya menyambung ,
tapi belum pun habis kata-katanya,
si gadis memintas lagi,

katanya ; ” kalau abang, boleh, tapi kalau saya minta duit, mesti tak ada !”

Serentak dengan itu, gadis tersebut menyepak ibunya dan menolaknya ke pintu.
Si ibu jatuh ke lantai .

” Saida.. Sai.. dddaaa..” katanya perlahan sambil mengurut dada.
Wajahnya berkerut menahan sakit.
Gadis tersebut tidak menghiraukan ibunya yang terkulai di lantai.
Dia sebaliknya masuk ke bilik dan berkurung tanda protes.
Di dalam bilik, di balingnya bantal dan selimut ke dinding.
Dan Sementara diluar, suasana sunyi sepi.
Hampir sejam kemudian, barulah gadis tersebut keluar.
Alangkah terkejutnya dia kerana ibunya tidak bergerak lagi.
Bila di pegang ke pergelangan tangan dan bawah leher , tidak ada lagi nadi berdenyut.

Si gadis panik.
Dia meraung dan menangis memanggil ibunya, tapi tidak bersahut.
Meraung si gadis melihat mayat ibunya itu.
Melaui jiran-jiran, kematian wanita itu di beritahu kepada bapa gadis yang bekerja di luar.

Jaimi menyambung ceritanya ;
” Mak cik tu di bawa ke kubur pukul 12.30 tadi.

Pada mulanya tak ada apa-apa yang pelik,
tapi bila mayatnya nak di masukkan ke dalam kubur,
ia jadi berat sampai dekat 10 orang pun tak terdaya nak masukkannya ke dalam kubur.
Suaminya sendiri pun tak dapat Bantu.

” Tapi bila budak perempuan tu tolong,
mayat ibunya serta-merta jadi ringan.
Dia seorang pun boleh angkat dan letak mayat ibunya di tepi kubur.”

Kemudian gadis berkenaan masuk ke dalam kubur untuk menyambut jenazah ibunya.
Sekali lagi beramai-ramai penduduk kampung mengangkat mayat tersebut dan menyerahkannya kepada gadis berkenaan.

Tanpa bersusah payah, gadis itu memasukkan mayat ibunya ke dalam lahad.
Namun apabila dia hendak memanjat keluar dari kubur tersebut,
tiba-tiba kakinya tidak boleh di angkat .
Ia seperti di paku ke tanah.
Si gadis mula cemas.

” Kenapa ni ayah ?” kata si gadis.

Wajahnya serta-merta pucat lesi.

” Apa pasal,” Si ayah bertanya.

” Kaki Saida ni.. tak boleh angkat !” balas si gadis yang kian cemas.
Orang ramai yang berada di sekeliling kubur mula riuh.
Seorang demi seorang menjenguk untuk melihat apa yang sedang berlaku.

” Ayah, tarik tangan saya ni.
Kaki saya terlekat… tak boleh nak naik,” gadis tersebut menghulurkan tangan ke arah bapanya.

Si bapa menarik tangan anaknya itu, tetapi gagal.
Kaki gadis tersebut melekat kuat ke tanah.
Beberapa orang lagi di panggil untuk menariknya keluar, juga tidak berhasil.

” Ayah… kenapa ni ?? !!

Tolonglah Saida , ayah..” si gadis memandang ayah dan
adik-beradiknya yang bertinggung di pinggir kubur.
Semakin ramai orang berpusu ke pinggir kubur.
Mereka cuba menariknya beramai-ramai namun sudah ketentuan Allah,
kaki si gadis tetap terpasak di tanah.
Tangisannya bertambah kuat.

” Tolong saya ayah, tolong saya…
kenapa jadi macam ni ayah?”
kata si gadis sambil meratap.

” Itulah, kamu yang buat emak sampai dia meninggal .
Sekarang ayah pun tak tau nak buat macam mana,”
jawab si ayah selepas gagal mengeluarkan anaknya itu.

Dia menarik lagi tangan gadis yang berada di dalam kubur tapi tidak berganjak walau seinci pun. Kakinya tetap terpahat ke tanah.

” Emak… ampunkan Saida emak, ampunkan Saida…” gadis itu menangis .
Sambil itu di peluk dan di cium jenazah.
Air matanya sudah tidak boleh di empang lagi.

” Maafkan Saida emak,
maafkan , Saida bersalah, Saida menyesal…
Saida menyesal..
Ampunkan Saida emak,” dia menangis lagi sambil memeluk jenazah ibunya yang telah kaku.

Kemudian gadis itu menghulurkan lagi tangannya supaya boleh ditarik keluar.
Beramai-ramai tangannya supaya boleh di tarik keluar.
Beramai-ramai orang cuba mengeluarkannya namun kecewa.

Apabila terlalu lama mencuba tetapi gagal,
imam membuat keputusan bahawa kubur tersebut perlu dikambus.

” Kita kambus sedikit saja,
sampai mayat ibunya tak dapat di lihat lagi.
Kita tak boleh biarkan mayatnya macam tu aja…
kalau hujan macam mana ? ” kata imam kepada bapa gadis berkenaan.

” Habis anak saya ?” tanya si bapa.

” Kita akan terus cuba tarik dia keluar.
Kita buat dua-dua sekali,
mayat isteri awak di sempurnakan,
anak awak kita selamatkan,” balas imam.

Lelaki berkenaan bersetuju.
Lalu seperti yang di putuskan,
upacara pengebumian terpaksa di teruskan sehingga selesai, termasuk talkinnya.
Bagaimana pun kubur di kambus separas lutut gadis saja,
cukup untuk menimbus keseluruhan jenazah ibunya.
Yang menyedihkan , ketika itu si gadis masih di dalam kubur.
Bila talking di baca, dia menangis dan meraung kesedihan.
Sambil itu dia meminta ampun kepada ibunya dengan linangan air mata.
Selesai upacara itu, orang ramai berusaha lagi menariknya keluar.
Tapi tidak berhasil.

” Bila dah lama sangat, aku balik kejap untuk makan.
Dah lapar sangat.
Lepas itulah aku singgah ke kedai ni.
Lepas ni aku nak ke kubur lagi.
Nak tengok apa yang terjadi,” kata Jaimi.

” Aku pun nak pergilah,” kata saya.
Lalu kami semua menunggang motosikal masing-masing menuju ke kubur.
Kami lihat orang ramai sudah berpusu-pusu di sana.
Beberapa buah kereta polis juga kelihatan di situ.
Saya terus berjalan pantas menuju kubur yang di maksudkan dan
berusaha menyusup ke celah-celah orang ramai yang sedang bersesak-sesak.

Setelah penat berusaha,
akhirnya saya berjaya sampai ke barisan paling hadapan.
Malangnya saya tidak dapat melihat gadis tersebut kerana di depan kami telah di buat kepungan tali. Kubur itu pula beberapa puluh meter daripada kami dan
terlindung oleh kubur serta pokok-pokok rimbun.
Di dalam kepungan itu, anggota-anggota polis berkawal dengan senjata masing-masing.

Nasib saya memang baik hari itu.
Dua tiga orang daripada polis berkenaan adalah kenalan saya.

” Pssstt… Raie… Raie.. Psstt,” saya memanggil ,
Raie yang perasan saya memanggilnya mengangkat tangan.

” Boleh aku tengok budak tu ?” saya bertanya sebaik saja dia datang ke arah saya.

” Mana boleh .
Keluarga dia aja yang boleh,” jawabnya perlahan-lahan seperti berbisik.

Sambil itu dia menjeling ke kiri dan kanan khuatir ada orang yang tahu.

” Sekejap aja.
Bolehlah…”saya memujuk.

Alhamdulillah, setelah puas di pujuk dia mengalah.
Tanpa berlengah, saya mengusup perlahan-lahan dan
berjalan beriringan dengan Raie seolah-olah tidak melakukan apa-apa kesalahan.
Namun demikian dada saya berdebar kencang.
Pertama ,risau, takut di halau keluar.
Kedua ; tidak sabar hendak melihat apa yang sedang berlaku kepada gadis berkenaan.

Selepas meredah kubur-kubur yang bertebaran,
akhirnya saya sampai ke pusara yang di maksudkan.
Di pinggir kubur itu berdiri dua tiga orang polis memerhatikan kedatangan saya.

Raie mendekati mereka dan berbisik-bisik.
Mungkin dia merayu supaya saya tidak di halau.
Alhamdulillah, saya lihat seorang polis yang berpangkat mengangguk-angguk.
Raie terus memanggil saya lalu memuncungkan bibirnya ke arah sebuah kubur.

Bila di jenguk kedalam , dada saya serta-merta terasa sebak.
Saya lihat gadis berkenaan sedang duduk di atas tanah kubur sambil menangis teresak-esak. Sebentar kemudian dia memegang tanah berhampiran lahad dan merintih ;
“Emak… ampunkanlah Saida, Saida sedar,
saida derhaka pada emak, Saida menyesal, Saida menyesal..”

Selepas mengesat air jernih yang terus berjejeran daripada mata yang bengkak,
gadis tersebut menangis lagi memohon keampunan daripada arwah ibunya.
” Emak… lepaskanlah kaki saya ni.
Ampunkan saya, lepaskan saya,”
Di tarik-tariknya kaki yang melekat di tanah namun tidak berhasil juga.

Saya lihat bapa dan adik-beradiknya menangis, di pinggir kubur.
Nyata mereka sendiri tidak tahu apa lagi yang hendak di buat untuk menyelamatkan gadis berkenaan.

” Sudahlah tu Saida… makanlah sikit nak ,”
rayu bapanya sambil menghulurkan sepinggan nasi juga segelas air.

Si gadis tersebut langsung tidak mengendahkan.
Malah memandang ke atas pun tidak.
Dia sebaliknya terus meratap meminta ampun daripada arwah ibunya.

Hampir menitis air mata saya melihat Saida .
Tidak saya sangka, cerita datuk dan nenek tentang anak derhaka kini berlaku di depan mata.

Begitu besar kekuasaan Allah.
Memang betullah kata para alim ulama, dosa menderhakai ibi bapa akan di balas ‘tunai’.

Malangnya saya tidak dapat lama di sana.
Cuma 10 - 15 minit saja kerana Raie memberitahu,
pegawainya mahu saya berbuat demikian.
Mahu tidak mahu , terpaksalah saya meninggalkan kubur tersebut.
Sambil berjalan kedengaran lagi Saida menangis dan meratap
” Ampunkan saya emak,
ampunkan saya saya, Ya Allah,
lepaskanlah kaki ku ini, aku bertaubat, aku insaf…”

Lantas saya menoleh buat kali terakhir.
Saya lihat bapa Saida dan adik beradiknya sedang menarik tangan gadis itu untuk di bawa keluar,
tapi seperti tadi, tidak berhasil.
Seorang polis saya lihat mengesatkan air matanya.

Semakin lama semakin ramai orang berhimpun mengelilingi perkuburan itu.
Beberapa kereta polis datang dan anggotanya berkawal di dalam
kepungan lengkap dengan senjata masing-masing.
Wartawan dan jurugambar berkerumun datang untuk
membuat liputan tetapi tidak di benarkan .
Mereka merayu bermacam-macam cara,
namun demi kebaikan keluarga gadis , permintaan itu terpaksa di tolak.

Matahari kian terbenam,
akhirnya tenggelam dan malam merangkak tiba.
Saida masih begitu.
Kaki terlekat di dalam kubur ibunya sementara dia tidak henti-henti meratap meminta keampunan. Saya pulang ke rumah dan malam itu tidak dapat melelapkan mata.
Suara tangisannya yang saya terngiang-ngiang di telinga.

Saya di beritahu ,sejak siang, tidak ada secebis makanan
mahupun minuman masuk ke tekaknya. Seleranya sudah mati.
Bapa dan adik beradiknya masih tetap di sisi kubur membaca al-Quran, Yassin dan berdoa.
Namun telah di sebutkan Allah,
menderhaka terhadap ibu bapa adalah dosa yang sangat besar.
Saida tetap tidak dapat di keluarkan.

Embun mula menitis.
Saida kesejukan pula.
Dengan selimut yang di beri oleh bapanya dia berkelubung.
Namun dia tidak dapat tidur.
Saida menangis dan merayu kepada Allah supaya mengampunkan dosanya.
Begitulah yang berlaku keesokannya.
Orang ramai pula tidak susut mengerumuni perkuburan itu.
Walaupun tidak dapat melihat gadis berkenaan tapi mereka
puas jika dapat bersesak-sesak dan mendengar orang-orang bercerita.

Setelah empat atau lima hari terperangkap, akhirnya Saida meninggal dunia.
Mungkin kerana terlalu lemah dan tidak tahan di bakar
kepanasan matahari pada waktu siang dan kesejukan di malam hari.
Mungkin juga kerana tidak makan dan minum.
Atau mungkin juga kerana terlalu sedih sangat dengan apa yang di lakukannya.

Allah Maha Agung…
sebaik Saida menghembuskan nafas terakhir,
barulah tubuhnya dapat di keluarkan.
Mayat gadis itu kemudian di sempurnakan seperti mayat-mayat lain.

Kuburnya kini di penuhi lalang.
Di bawah redup daun kelapa yang melambai-lambai,
tiada siapa tahu di situ bersemadi seorang gadis yang derhaka.

~ copy dari hamba ALLAH~

Saturday, 25 June 2011

Teringin aku menjadi seperti dia..........

Teringin saya menjadi seperti dia....menjadi seorang isteri yang solehah...yang membahagiakan suami...yang dicintai suami...yang taat kepada suami...insya Allah satu hari nnti masa saya akan tiba... (^_^)...siapa yang saya mksd kan ialah kisah seorang wanita bernama Muthi'ah yg hidup pada zaman Rasulullah SAW..

Kisah nya mcm nie......

Pada suatu hari Fatimah binti Muhammad SAW puteri kesayanganya,juga isteri Saydina Ali bertanya kepada Rasulullah SAW.:“Ya Rasulullah SAW…Siapakah wanita yang paling baik akhlaknya?”Jawab Rasullulah SAW :“Wahai puteriku Fatimah…Datanglah engkau ke rumahnya Muthi’ah, di sana engkau akan mengetahui siapa wanita terbaik akhlaknya.”

Fatimah pun berangkat menuju rumah Muthi’ah dengan membawa seorang anaknya iaitu Hassan yang pada waktu itu masih kecil. Sesampainya di rumah Muthi’ah maka dia memberi salam pada wanita itu,sebelum pintu di buka dilihatnya dari jendela siapa yang memberi salam,ternyata Fatimah. Namun  kerana membawa anak lelaki, Muthi’ah menolaknya secara halus agar anaknya di bawa pulang dahulu kerana walau bagaimanapun anaknya adalah seorang lelaki. Suaminya sudah berpesan agar tidak diizinkan menerima tetamu seorang lelaki walau saudaranya sekalipun. Fatimah hairan sejenak melihat dinding rumah terselit sebuah kipas dan sebatang rotan juga tergantung senduk kecil yang bersih, yang baru kali ini dia melihat barang-barang tersebut, iaitu di rumah Muthi’ah.

Setelah Muthi’ah selesai menghidangkan makanan ala kadar,maka Fatimah berbicara tentang maksud kedatangannya, lalu Muthi’ah menjawab : “Perilaku saya sebenarnya tidaklah teramat istimewa, malahan Rasulullah SAW lebih mengetahui akan segalanya, dan saya hanya menuruti apa yang dianjurkan oleh beliau sebagaimana kewajiban saya sebagai seorang isteri, di antaranya :
·         Saya tidak dapat meninggalkan rumah jika suami sedang pergi.
·         Saya tidak beri izin tamu lelaki masuk jika suami saya tidak ada.
·         Saya tidak akan berkeluh-kesah kerana suami orang yang tidak punya harta.
·         Saya berusaha agar suami saya senang dan cinta kepada saya.
·         Saya tidak cepat-cepat cemburu.
·         Saling menghargai dan mengerti antara kami berdua.

Mendengar keterangan Muthi’ah demikian, Fatimah jadi terharu hatinya. Kini Fatimah balik bertanya :
“Maaf ya Muthi’ah, ada sesuatu yang saya akan tanyakan. Saya lihat ada rotan,kipas dan senduk kecil sejak tadi menjadi perhatian saya. Apa gunanya benda-benda tersebut .”Kata Muthi’ah “Saya sengaja sediakan rotan,kipas dan sebuah senduk kecil.Memang saya manfaatkannya buat kami berdua yakni untuk saya dan suami saya. Saya tahu bahawa seorang suami mempunyai tanggungjawab yang besar terhadap isterinya dan kerana sayang kepada isterinya, dia mencari nafkah sehari-hari walau keadaan panas terik,tidak menjadi halangan baginya pergi ke tempat jauh untuk mencari rezeki.”

Oleh kerana itu sebagai ajaran Rasullulah SAW, bahawa saya harus taat pada suami saya, saya curahkan apa yang boleh pada diri saya demi untuk membahagiakan suami saya. Maka begitu nnti suami saya pulang, saya akan berpakaian kemas, saya sambut suami saya dengan senyuman. Andai kata nampak wajah suami saya kusut kelihatannya saya sambut dengan ramah dan saya tanyakan sebabnya. Maka begitu suami saya masuk, saya bukakan bajunya dan sepatunya, saya gosok peluhnya dengan senduk kecil ini kemudian menghilangkan rasa panas badannya lalu saya ambil kipas ini lalu saya kipasi dia. Begitulah saya kerjakan ketika suami saya baru pulang. Kemudian setelah itu saya tanyakan : Apakah dia mahu mandi atau mahu makan dulu..Bila suami saya katakan mahu mandi, saya hantar suami saya ke bilik mandi, saya membantu menuangkan air ke badannya. Maka jika suami saya minta digosokkan badannya saya kerjakan itu semua dengan penuh cinta dan bahagia. Maka setelah selesai mandi saya sediakan pakaian persalinan untuknya.Begitulah saya kerjakan setiap hari. Bila selesai makan dan selesai solatnya saya ambil rotan ini dan saya berkata kepada suami saya. Suamiku sayang, peganglah rotan ini. Ketika itu saya membuka baju,saya tidak malu-malu. Kata saya : “ Wahai suamiku bilamana saya ada kesalahan atau kekurangan dalam pelayanan keinginanmu pukullah saya dari depan atau belakang.”

Demikianlah saya kerjakan terhadap suami saya. Maka bila saya berbuat demikian terhadap suami saya, lalu suami saya tiba-tiba memeluknya dengan penuh mesra dengan raut muka yang berseri-seri, terlontar dari mulutnya: “Muthi’ah isteriku sayang, mudah-mudahan ketaatan dan ketulusan hatimu terhadap suami akan mendapat rahmat di sisi Allah Ta’ala.”Selain dari itu Muthi’ah menetapkan soal solat lima waktu dan solat sunat rawatib tidak pernah ditinggal, tapi dia lebih senang solat di rumah saja. Kerana lebih terpelihara dari mata orang. Bila suami solat di rumah, dia turut solat jemaah.Soal berhias dia lebih mengutamakan untuk suaminya. Oleh kerana itu, keadaannya Muthi’ah cantik sekali dan dia berdandan rapi dan berhias hanya untuk suaminya.

Pernah diceritakan, ketika Muthi’ah baru mempunyai seorang anak dan anak itu sedang bermain-main, tiba-tiba anak itu sakit dan meninggal dunia. Namun Muthi’ah menerima musibah itu dengan dada lapang. Dia menerima kejadian itu dengan penuh sabar dan hati tabah,kerana ajaran Rasulullah SAW dia resapi dan diterima dengan hati nurani yang murni. Dia hanya dapat menitiskan air mata, dipeluk dan dicium dengan cinta dan sayang, hanya keluar dari mulutnya :” Aku sebagai seorang ibu memang sayang, tapi ada yang lebih sayang iaitu Allah SWT. Kini anakku sudah dipanggil pulang oleh yang menciptakannya, manusia semuanya kepunyaan Allah dan akhirnya akan kembali kepada-Nya.”

Maka setelah suami Muthi’ah pulang dia tidak segera menceritakan kejadiaan itu kepada suaminya, kemudian setelah suaminya mandi dan makan Muthi’ah berkata kepada suaminya :“Kanda apabila kita pinjam sesuatu barang dan barang tersebut diambil oleh empunya, apakah harus kita marah dan menyesal? Ya seharusnya kita ucapkan terima kasih kerana dia telah bersedia memberi kepada kita.bagus jika begitu, ya kanda. Demikian pula yang menimpa kepada anak kita, dia telah meninggal dunia siang tadi dengan sangat mendadak kerana sakit.”Demikian keluarga itu menerima musibah dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Pantaslah kalau Rasulullah SAW menyebutnya seorang wanita yang berakhlak mulia.....(^_^)...

Wahhhhhhhh!!!!!!!....sweet kan...hmmmmmm...kisah cinta yg paling sweet....mudah-mudahan kita semua akan menjadi isteri seperti Muthi'ah...aminnnnn... (^_^)

Friday, 24 June 2011

Dia sahabat ku....





Assalamualaikum...hmmmmm...orang selalu kata berkawan ni biar beribu, berkasih biar satu...tp bagi saya kalau kawan beribu-ribu pun tapi semua nya bawa ke arah yang x betul, bukan ke landasan Dia, baik x payah ada kawan ramai-ramai...betul x???? cukup la kawan yg sikit tp boleh bawa kita ke arah yang betul. Kita jgn tngok kuantiti tp kualiti..Saya selalu set kan dalam mind ni rakan yang baik akan membawa kebaikan, sebaliknya yang jahat membawa kemudaratan. (^_^)

Dalam banyak-banyak persahabatan yang orang kata best,sweet, dan comel...pada pendapat saya la kan, persahabatan antara Rasullulah SAW dan Abu Bakar adalah yang palinggggggg menarik,sweet dan patut jadi kan panduan pada siapa-siapa yang nak dapatkan kawan yang betul-betul kawan..bukan kawan yang hanya tengok harta,kecantikan atau kehenseman dan populariti kita...Keutamaan Abu Bakar di mata Rasulullah dijelmakan menerusi sabda Baginda bermaksud: “Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan umat sekaliannya, nescaya akan berat lagi keimanan Abu Bakar.” (Hadis riwayat al-Baihaqi).

Nak tau sesuatu x????Kalau nak tau terus kan membaca, kalau x nak sila lah berhenti membaca...Rasulullah SAW meluahkan isi hatinya kepada Abu Bakar seperti dinaqalkan dalam buku susunan Syed Ahmad Semait, Sepuluh Yang Dijaminkan Masuk Syurga, katanya: “Semoga Allah merahmatimu! Engkau adalah sahabatku! Engkau telah membenarkanku ketika orang lain mendustakanku, engkau telah membantuku ketika orang lain membiarkanku, engkau telah beriman kepadaku ketika orang lain mendustakanku, engkau telah mententeramkan hatiku ketika hatiku sedang dalam keadaan keluh kesah. Sesungguhnya tiada siapa pun, biar apa pun sekali yang dilakukannya buat diriku yang dapat menyamai apa yang dibuat olehmu.” 


Wahhh!!!!!!ini la yang dikatakan so sweetttttt...Abu Bakar sentiasa bersama Rasulullah x kira apa juaaaa yg berlaku...ada ker lg kwn mcm ni...Kalau ada, jaga la dia,sayangi la dia, hormati la dia dan sentiasa doa kan lah dia...

Nak tau lagi satu benda x?????hmmmm...bnda yg sama gak...klau nak tau teruskan membaca, klau x nak sila lah berhenti membaca...Ciri-ciri sahabat/rakan/kawan/teman yang baik yg berguna adalah :

1)Kawan yang baik dan mampu membimbing ke arah kebaikan
Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud: “Teman yang baik dan teman yang tidak baik itu diumpamakan seperti pembawa kasturi dan peniup api, maka si pembawa kasturi mungkin memberikan kasturi itu kepada kamu atau kamu dapat membelinya, atau kamu dapat mencium baunya yang wangi. Bagaimanapun peniup api mungkin membakar pakaianmu atau kamu dapat mencium baunya yang busuk.” (Hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim).


2) Kawan yang bertakwa dan beriman
Sabda Baginda bermaksud: “Jangan kamu bersahabat melainkan dengan orang yang beriman dan jangan berikan makan kecuali kepada orang yang bertakwa.” (Hadis riwayat Abu Daud dan at-Tirmizi).

3)Kawan yang baik perangai dan akhlaknya
Ibn Asakir menceritakan bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Jauhilah kawan yang buruk (akhlak dan perangainya), kamu akan dikenali sepertinya.”
Sabda Baginda lagi : “Seseorang itu berada atas cara hidup kawannya, maka perhatikanlah tiap seorang daripada kamu, siapakah yang didampinginya.” (Hadis riwayat at-Tirmizi dan Abu Daud).

4) Kawan yang menegur sahabatnya di atas perkara yang benar
Ubadah Ibn As-Samit berkata: Rasulullah SAW mengikat janji dengan kami supaya dengar dan patuh ketika susah dan senang, yang disukai dan dibenci dan jangan merebut sesuatu dari tuannya kecuali ada bukti kekufurannya. Begitu juga, kami hendaklah berkata benar di mana saja kami berada tanpa takut akan penghinaan daripada seseorang yang suka menghina, semata-mata kerana Allah. (Hadis riwayat Muslim).So, klau ada kawan tegur-tegur kita, jgn la marah-marah or rasa nak berdendam dgn dia k...

5)Kawan yang membantu ketika sahabatnya kesempitan
Daripada Ibn Umar bahawa Rasulullah SAW bersabda: “Seorang Muslim dengan Muslim yang lain adalah bersaudara, dia tidak menzaliminya dan tidak mengelakkan diri daripada menolongnya, sesiapa yang melepas hajatnya, sesiapa yang melepaskan saudaranya daripada sesuatu kesempitan, maka Allah akan melepaskan satu kesempitan daripada kesempitan-kesempitan hari kiamat, dan sesiapa yang menutup (keaiban) saudaranya, maka Allah akan melindunginya pada hari kiamat.” (Hadis riwayat Al-Bukhari dan Muslim).Tapiiiiii....jgn pulak ambil kesempatan masa kita kesempitan..Contohlah, ada kawan nak belanja makan sebab tau awak tu x ada duit, terima je la pemberian si dia..jgn la pulak kata nak makan ni la,nak makan tu la...tu melebih-lebih la pulak...

So, kalau awk smua ada kwn-kwn mcm nie yg ciri-ciri nya mcm di atas ni, hargai la dia k...sbb bukan senang nak cari kawan yang baik sekarang ni...mcm saya ni, syukur pada Allah pertemukan saya dengan kwn-kwn yg baik,sweet n slalu ada bsama saya x kira senang atau susah..Fairuz, Fatimah, Hamidah & Majidah...thanks.. (^_^)